OpenAI Siapkan Watermark Tak Kasatmata untuk Teks ChatGPT, Dimulai di Eropa
Tim Redaksi - NarasiBangsa

Jakarta - OpenAI mengumumkan watermark untuk teks yang dihasilkan ChatGPT dan Codex. Tanda ini tidak terlihat oleh mata, tetapi bisa dikenali oleh sistem pendeteksi khusus.
Teknologinya diberi nama textGrain. Cara kerjanya adalah menambahkan sinyal statistik pada pilihan kata yang dibuat model. Detektor kemudian mencari sinyal tersebut untuk memastikan apakah sebuah teks dibuat dengan ChatGPT atau Codex.
Baca juga: Meta Larang Iklan TikTok di Instagram dan Facebook, Berlaku Juga di Indonesia
Kenapa Eropa lebih dulu
Peluncuran pertama dilakukan di Uni Eropa karena EU AI Act mewajibkan penyedia AI membuat teks hasil generasi dapat diidentifikasi dalam format yang bisa dibaca mesin. Dalam beberapa pekan ke depan, OpenAI akan menambahkan watermark pada output teks ChatGPT dan Codex yang memenuhi syarat di wilayah tersebut, untuk semua paket ChatGPT.
Di luar Eropa, sistem ini belum diluncurkan untuk pengguna ChatGPT. Namun, pelanggan API di seluruh dunia akan mendapat opsi untuk mengaktifkan watermark teks pada sejumlah model tertentu.
Apa artinya bagi pengguna di Indonesia
Untuk saat ini belum ada perubahan langsung bagi pengguna ChatGPT di Indonesia. Meski begitu, langkah ini memberi gambaran arah industri: teks buatan AI makin mudah ditelusuri asalnya, terutama bila dipakai di lingkungan yang menuntut keaslian tulisan seperti sekolah, kampus, atau penerbitan.
Cara paling aman tetap sama sejak awal: gunakan AI sebagai alat bantu, sunting hasilnya dengan pemahaman sendiri, dan ikuti aturan pemakaian AI yang berlaku di institusi masing-masing.

